Review Film Lift: Perampokan Pesawat
Review Film Lift: Perampokan Pesawat. Film “Lift” yang tayang di Netflix sejak Januari 2024 menjadi tambahan baru dalam genre heist action-comedy, dengan campuran aksi cepat dan humor ringan yang khas produksi streaming. Disutradarai oleh F. Gary Gray, yang dikenal lewat karya seperti “The Fate of the Furious”, film ini menampilkan Kevin Hart dalam peran serius sebagai pemimpin tim pencuri profesional. Hart berperan sebagai Cyrus Whitaker, seorang master thief yang harus bekerja sama dengan agen Interpol untuk melakukan perampokan di ketinggian 40.000 kaki. Gugu Mbatha-Raw tampil sebagai Abby Gladwell, mitra Cyrus yang awalnya ragu, sementara ensemble cast termasuk Vincent D’Onofrio, Úrsula Corberó, dan Billy Magnussen menambah warna pada tim eksentrik. Dengan durasi 104 menit, “Lift” menggabungkan elemen Ocean’s Eleven dengan setting pesawat terbang, menyajikan cerita tentang pencurian emas senilai 500 juta dolar untuk mencegah transaksi teroris. Meski plotnya mengikuti formula klasik, visual glamor dari lokasi seperti Venesia dan pegunungan Alpen membuatnya menarik secara estetis. Di tengah banjir konten Netflix, film ini menawarkan hiburan ringan bagi penggemar aksi tanpa beban, meski mendapat kritik atas kurangnya orisinalitas. Bagi yang mencari tontonan akhir pekan, “Lift” bisa jadi pilihan santai yang menggabungkan ketegangan udara dengan sentuhan komedi. MAKNA LAGU
Sinopsis Cerita: Review Film Lift: Perampokan Pesawat
Cerita dimulai di Venesia, di mana Cyrus Whitaker dan timnya—termasuk hacker Mi-Sun (Yun Jee Kim), pilot Camila (Úrsula Corberó), ahli kamuflase Magnus (Billy Magnussen), dan safecracker Denton (Vincent D’Onofrio)—melakukan pencurian NFT yang cerdik untuk menaikkan nilai seni. Namun, operasi ini menarik perhatian agen Interpol Abby Gladwell, yang menangkap Cyrus. Alih-alih penjara, Abby merekrut Cyrus untuk misi rahasia: mencuri 500 juta dolar emas batangan yang sedang diangkut pesawat dari London ke Zurich, sebelum jatuh ke tangan teroris yang dipimpin Jorgensen (Jean Reno).
Misi ini rumit karena harus dilakukan di udara, tanpa senjata, dan dengan pesawat yang dikawal ketat. Cyrus dan timnya menyusup sebagai penumpang kelas satu, menggunakan gadget canggih seperti drone mini dan perangkat hacking untuk mengalihkan perhatian kru. Konflik muncul dari ketegangan antara Cyrus dan Abby, yang punya sejarah romantis samar, serta ancaman dari Huxley (Sam Worthington), pemimpin keamanan pesawat yang curiga. Adegan klimaks melibatkan perampokan di kabin, dengan elemen seperti banjir air dan pertarungan tangan kosong di lorong sempit, semuanya sambil pesawat terbang di atas awan.
Plot bergerak cepat dengan twist seperti pengkhianatan internal dan rencana cadangan yang absurd, tapi tetap fokus pada tema kepercayaan dan moralitas pencuri yang “baik”. Meski predictable, cerita menyentuh isu seperti kripto dan terorisme siber tanpa terlalu dalam, membuatnya mudah dicerna sebagai popcorn movie.
Penampilan Para Pemain: Review Film Lift: Perampokan Pesawat
Kevin Hart menjadi pusat film ini, mencoba peran lebih serius sebagai Cyrus yang karismatik dan cerdas, meski masih menyisipkan humor khasnya. Hart tampil meyakinkan dalam adegan aksi, seperti memanjat dinding pesawat atau mengendalikan drone, tapi chemistry romantisnya dengan Mbatha-Raw terasa paksa, lebih seperti teman daripada pasangan. Ini adalah upaya Hart untuk keluar dari zona komedi slapstick, dan ia berhasil menjaga tempo, meski kadang overacting di momen dramatis.
Gugu Mbatha-Raw sebagai Abby memberikan kedalaman emosional, membawa nuansa keraguan dan tekad pada agen yang terjebak antara tugas dan perasaan. Penampilannya solid, dengan timing action yang presisi, membuatnya jadi counterpart ideal bagi Hart. Vincent D’Onofrio sebagai Denton menambahkan humor quirky dengan aksen Italia palsu, sementara Úrsula Corberó sebagai Camila tampil energik sebagai pilot yang tangguh. Billy Magnussen sebagai Magnus adalah comic relief utama, dengan dialog konyol yang sering mencuri adegan.
Pendukung seperti Sam Worthington sebagai Huxley dan Jean Reno sebagai Jorgensen tampil standar sebagai antagonis, tanpa banyak ruang untuk berkembang. Sutradara Gray memaksimalkan cast dengan pengambilan gambar dinamis, tapi kekuatan utama terletak pada ensemble yang saling melengkapi, membuat tim terasa seperti keluarga eksentrik meski karakterisasi tipis.
Respons Kritikus dan Penonton
Respons terhadap “Lift” cenderung campuran, dengan kritik lebih fokus pada kekurangan orisinalitas sementara penonton menikmati aspek hiburannya. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus berada di sekitar 29 persen, dengan banyak yang menyebut film ini formulaik dan predictable, seperti campuran “Ocean’s Eleven” dengan “Non-Stop” tapi tanpa kedalaman. Kritikus dari Roger Ebert menyebutnya generic dan forgettable, meski memuji produksi yang kompeten dan visual slick. Beberapa menyoroti skrip yang haphazard, dengan dialog klise dan plot hole seperti logika perampokan di pesawat yang terlalu mudah.
Di sisi lain, penonton lebih positif, dengan skor audiens mencapai 53 persen di Rotten Tomatoes dan rating IMDb sekitar 5.5 dari ratusan ribu ulasan. Banyak yang memuji sebagai fun heist flick, terutama adegan aksi di udara yang menegangkan dan humor ringan dari Hart. Di media sosial, ulasan sering menyebutnya entertaining escapism, cocok untuk ditonton santai tanpa ekspektasi tinggi. Beberapa mengapresiasi diversity cast dan lokasi internasional, sementara yang lain mengkritik kurangnya chemistry romantis dan akhir yang rushed. Secara komersial, film ini sukses di Netflix, masuk top 10 global saat rilis, menandakan daya tariknya bagi penonton yang mencari aksi cepat.
Kesimpulan
“Lift” adalah perampokan pesawat yang menghibur meski tak inovatif, dengan Kevin Hart sebagai bintang yang membawa energi pada genre heist klasik. Meski cerita formulaik dan karakter tipis, aksi dinamis dan visual memukau membuatnya layak ditonton bagi pecinta film ringan. Di era streaming yang penuh pilihan, ini adalah opsi santai untuk akhir pekan, mengingatkan bahwa terkadang, hiburan sederhana sudah cukup tanpa perlu plot rumit. Bagi yang suka campuran komedi dan ketegangan udara, “Lift” bisa jadi penerbangan menyenangkan, meski tak meninggalkan bekas mendalam.
