Review Film Iris

Review Film Iris. Iris tetap menjadi salah satu film paling menyentuh dan jujur tentang perjuangan melawan Alzheimer yang pernah dibuat. Dirilis pada tahun 2001, karya Richard Eyre ini berhasil memenangkan dua Oscar—Aktris Pendukung Terbaik untuk Judi Dench dan Aktris Pendukung Terbaik untuk Kate Winslet—dan terus dianggap sebagai referensi utama ketika membahas penggambaran demensia dari sudut pandang keluarga dan pasangan. Film ini mengadaptasi memoar John Bayley tentang istrinya, Iris Murdoch, seorang filsuf dan novelis terkenal yang didiagnosis Alzheimer di usia 70-an. Cerita tidak hanya tentang penyakit, melainkan tentang cinta yang bertahan meski ingatan memudar, identitas yang perlahan hilang, dan bagaimana pasangan menghadapi akhir hidup bersama. Dengan nada yang lembut namun tanpa kompromi, Iris berhasil menyampaikan rasa kehilangan yang dalam tanpa terasa berlebihan atau manipulatif. BERITA TERKINI

Penampilan Judi Dench dan Kate Winslet yang Mengesankan: Review Film Iris

Judi Dench sebagai Iris Murdoch di tahap akhir hidupnya memberikan penampilan yang luar biasa. Ia menunjukkan perubahan bertahap dari wanita cerdas, eksentrik, dan penuh pesona menjadi seseorang yang semakin kehilangan kendali atas pikiran dan tubuhnya. Dench tidak pernah jatuh ke karikatur—ia menggunakan ekspresi mata yang mulai kosong, senyum yang ragu, dan gerakan tangan yang gemetar untuk menyampaikan kebingungan serta rasa malu yang tersisa. Ada momen ketika Iris masih cukup sadar untuk merasa frustrasi atas kekurangannya, dan tatapan itu menyakitkan karena terasa sangat nyata.

Kate Winslet sebagai Iris muda dalam kilas balik menjadi kontras sempurna: energik, intelektual, dan penuh gairah hidup. Winslet berhasil menangkap esensi Iris yang dulu—wanita yang mencintai kebebasan, ide, dan kehidupan—sehingga penonton bisa merasakan betapa besar kehilangan ketika penyakit mulai merenggutnya. Hugh Bonneville dan Jim Broadbent sebagai John Bayley (muda dan tua) juga memberikan dukungan kuat—Broadbent khususnya menunjukkan perjuangan internal antara kasih sayang mendalam dan kelelahan yang tak terucapkan saat merawat istrinya.

Penggambaran Demensia yang Sangat Manusiawi: Review Film Iris

Film ini tidak menjadikan Alzheimer sebagai alat drama murahan. Gejala dimulai dari hal-hal kecil—lupa kata saat berbicara di depan umum, tersesat di jalan yang biasa, atau kebingungan saat mengenali orang terdekat. Iris Murdoch yang dulu menulis novel dan filsafat kompleks perlahan kehilangan kemampuan berbahasa, mengenali wajah, dan akhirnya kesadaran diri. Yang paling menyayat adalah kesadaran sementara yang masih tersisa: Iris tahu ia sedang “hilang”, tapi tidak bisa menghentikannya.

Film ini juga jujur tentang beban caregiving. John Bayley berusaha merawat Iris di rumah selama mungkin, tapi perlahan menyadari bahwa ia tidak bisa memberikan perawatan yang dibutuhkan sendirian. Ada momen ketika Iris mulai membentuk ikatan emosional dengan penghuni lain di panti jompo, dan John harus belajar melepaskan—bukan karena kurang cinta, melainkan karena ia ingin istrinya tetap merasa aman dan bahagia. Penggambaran ini membuat penonton memahami bahwa demensia bukan hanya penyakit penderita, melainkan ujian berat bagi pasangan dan keluarga.

Dampak Emosional dan Pesan yang Abadi

Away from Her tidak memaksa penonton menangis dengan adegan besar. Emosinya datang dari akumulasi momen kecil yang terasa sangat nyata: senyum Iris yang mulai pudar, tatapan John yang penuh penyesalan, atau saat Iris memanggil nama orang lain tanpa sadar. Akhir film yang terbuka namun penuh kasih—tanpa resolusi dramatis—meninggalkan rasa pilu sekaligus hangat yang lama tertinggal.

Pesan utama film ini adalah tentang cinta yang bertahan meski ingatan memudar. Iris mungkin lupa siapa John, tapi John tetap memilih untuk tetap ada, membaca cerita untuknya, dan menerima bahwa cinta tidak selalu harus diingat untuk tetap nyata. Film ini juga mengingatkan bahwa di usia senja, martabat dan otonomi sangat berharga—dan kadang melepaskan adalah bentuk kasih sayang terbesar. Di tengah banyak film yang menggambarkan demensia dengan cara dramatis atau menghibur, Away from Her memilih jalan yang lebih tenang tapi jauh lebih menyentuh.

Kesimpulan

Away from Her adalah film yang sederhana tapi sangat dalam dalam menggambarkan cinta di usia senja dan dampak demensia terhadap hubungan panjang. Penampilan luar biasa dari Julie Christie dan Gordon Pinsent, ditambah naskah Sarah Polley yang penuh kepekaan serta penyutradaraan yang penuh perhatian, membuat film ini tetap relevan hingga sekarang. Ia tidak menawarkan akhir bahagia yang dipaksakan atau drama berlebihan; sebaliknya, ia memberikan potret realistis tentang bagaimana cinta bisa bertahan meski ingatan memudar, dan bagaimana melepaskan kadang menjadi bentuk kasih sayang terakhir. Di tengah dunia yang sering menghindari topik penuaan dan kehilangan ingatan, Away from Her berani menatap langsung—dengan lembut, jujur, dan penuh empati. Film ini bukan sekadar cerita tentang demensia—ia adalah pengingat mendalam bahwa cinta sejati tidak bergantung pada ingatan, melainkan pada kehadiran dan pengorbanan yang terus-menerus.

BACA SELENGKAPNYA DI…