Review Film I’m Still Here: Perjuangan Nyata Seorang Ibu
Review Film I’m Still Here: Perjuangan Nyata Seorang Ibu. Film I’m Still Here (Ainda Estou Aqui) karya sutradara Walter Salles yang tayang perdana di Festival Film Venesia Agustus 2024 dan rilis luas di Brasil serta festival internasional akhir 2024, hingga Februari 2026 tetap menjadi salah satu drama biografis paling menyentuh dan mendapat pujian luas. Dibintangi Fernanda Torres sebagai Eunice Paiva dan Selton Mello sebagai Rubens Paiva, film ini mengisahkan perjuangan nyata Eunice Paiva, seorang ibu rumah tangga biasa yang berubah menjadi aktivis hak asasi manusia setelah suaminya, mantan deputi federal Rubens Paiva, diculik dan dibunuh oleh rezim militer Brasil pada 1971. Dengan durasi 137 menit, film ini berhasil meraih nominasi Oscar 2025 untuk Best International Feature Film dan mendapat rating rata-rata 7,8/10 dari penonton serta 96% di Rotten Tomatoes. I’m Still Here bukan sekadar rekonstruksi sejarah; ia adalah potret intim tentang keberanian seorang ibu yang menolak diam di tengah kediktatoran. REVIEW KOMIK
Alur Cerita yang Berbasis Fakta dan Emosional: Review Film I’m Still Here: Perjuangan Nyata Seorang Ibu
Cerita dibagi dua periode utama: kehidupan bahagia keluarga Paiva sebelum penculikan dan perjuangan Eunice setelah kehilangan suaminya. Rubens Paiva adalah politisi oposisi yang vokal menentang rezim militer. Pada 20 Januari 1971, ia diculik dari rumahnya di Rio de Janeiro oleh aparat keamanan, disiksa, dan dibunuh. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Eunice, yang awalnya ibu rumah tangga biasa dengan lima anak, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit: suaminya hilang tanpa jejak, pemerintah menyangkal, dan keluarganya diawasi ketat.
Alih-alih menyerah, Eunice mulai mencari kebenaran. Ia mendatangi kantor militer, berbicara dengan pejabat, mengumpulkan dokumen, dan akhirnya menjadi salah satu suara terdepan dalam gerakan keluarga korban hilang paksa selama kediktatoran Brasil (1964–1985). Alur film berjalan lambat tapi penuh emosi: dari kebahagiaan keluarga di pantai hingga kesedihan Eunice yang berubah menjadi tekad baja. Tidak ada adegan kekerasan berlebihan; horornya ada pada ketidakpastian, penyangkalan negara, dan perjuangan ibu tunggal membesarkan anak sambil melawan sistem.
Performa Fernanda Torres dan Rekonstruksi Era Kediktatoran: Review Film I’m Still Here: Perjuangan Nyata Seorang Ibu
Fernanda Torres memberikan penampilan seumur hidup sebagai Eunice Paiva. Dari ibu rumah tangga yang lembut dan ceria menjadi wanita yang hancur tapi tak pernah patah—perubahan itu terasa sangat organik melalui ekspresi mata, gerakan tubuh, dan suara yang semakin tegas seiring waktu. Torres berhasil menangkap esensi Eunice: bukan pahlawan super, tapi manusia biasa yang dipaksa menjadi luar biasa oleh keadaan. Selton Mello sebagai Rubens Paiva membawa karisma dan kehangatan yang membuat penonton ikut merasakan kehilangan ketika ia hilang.
Rekonstruksi era 1960-an dan 1970-an dibuat sangat autentik: kostum, dekorasi rumah, mobil klasik, musik bossa nova, dan suasana politik yang tegang terasa hidup. Penggunaan arsip foto dan video asli keluarga Paiva menambah lapisan emosional yang kuat. Sinematografi oleh Adrian Teijido menggunakan warna-warna hangat di masa bahagia dan dingin di masa perjuangan, menciptakan kontras yang sangat efektif.
Makna Lebih Dalam: Perjuangan Ibu dan Ketahanan di Tengah Kediktatoran
Di balik cerita pribadi, I’m Still Here adalah potret tentang peran perempuan dalam perjuangan hak asasi manusia. Eunice Paiva bukan aktivis politik sebelum kehilangan suaminya; ia menjadi aktivis karena tidak ada pilihan lain—ia harus mencari jawaban untuk anak-anaknya. Film ini menunjukkan bagaimana kediktatoran tidak hanya menghancurkan korban langsung, tapi juga keluarga yang ditinggalkan: trauma yang diturunkan, rasa takut yang terus-menerus, dan perjuangan mencari kebenaran di tengah penyangkalan negara.
Lagu ini juga bicara tentang ketahanan dan keberanian sehari-hari: Eunice tidak melakukan demonstrasi besar atau pidato heroik; ia hanya terus bertanya, terus mencari dokumen, terus mengetuk pintu kantor militer—dan itulah bentuk perlawanan yang paling nyata. Makna terdalamnya adalah bahwa “kebaikan” dan “keberanian” sering lahir dari rasa sakit terdalam seorang ibu, dan bahwa mencari kebenaran adalah bentuk cinta terbesar yang bisa diberikan kepada anak-anak dan generasi berikutnya.
Kesimpulan
I’m Still Here adalah film yang langka: menyedihkan sekaligus menguatkan, sederhana sekaligus sangat kuat, dan sangat manusiawi tanpa terasa berlebihan. Kekuatan utamanya terletak pada performa Fernanda Torres yang luar biasa, rekonstruksi sejarah yang autentik, dan arahan Walter Salles yang penuh empati. Film ini berhasil menjadi biopic yang tidak hanya menceritakan kisah Amy Winehouse—maaf, kisah Eunice Paiva—tapi juga menggambarkan bagaimana seorang ibu biasa bisa menjadi pahlawan tanpa sadar. Jika kamu mencari film yang tidak hanya menghibur tapi juga membuatmu menghargai perjuangan orang-orang biasa melawan ketidakadilan, I’m Still Here adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin merasakan betapa besarnya kekuatan seorang ibu yang hanya ingin tahu kebenaran tentang anaknya. Film ini bukan sekadar drama sejarah; ia adalah pengingat bahwa kadang perjuangan terbesar adalah terus bertanya “di mana dia?” meski jawabannya tidak pernah datang. Dan itu, pada akhirnya, adalah bentuk cinta dan keberanian paling nyata yang bisa ditunjukkan seorang manusia.
