Review Film Inside Out 2 Sequel: Emosi Baru Muncul?

Review Film Inside Out 2 Sequel: Emosi Baru Muncul? Film Inside Out 2 yang tayang sejak Juni 2024 tetap jadi salah satu rilis paling dibicarakan hingga awal 2026. Sequel animasi Pixar ini berhasil jadi film terlaris sepanjang masa di kategori animasi dengan pendapatan global lebih dari US$1,69 miliar, melampaui Frozen II dan The Lion King 2019. Disutradarai Kelsey Mann, film ini kembali bawa Riley yang kini berusia 13 tahun dan hadapi pubertas. Emosi baru muncul: Anxiety (Maya Hawke), Envy (Ayo Edebiri), Ennui (Adèle Exarchopoulos), dan Embarrassment (Paul Walter Hauser). Joy (Amy Poehler) dan kawan-kawannya harus beradaptasi dengan kontrol emosi yang semakin kompleks. Dengan rating Rotten Tomatoes 91% dari kritikus dan 95% dari penonton, plus CinemaScore A, pertanyaannya sederhana: apakah sequel ini berhasil lebih baik dari yang pertama, atau cuma nostalgia doang? REVIEW FILM

Kekuatan Cerita dan Emosi yang Lebih Dewasa di Film Inside Out 2: Review Film Inside Out 2 Sequel: Emosi Baru Muncul?

Inside Out 2 sukses besar karena berani eksplorasi tema pubertas dengan cara yang jujur tapi tetap ramah anak. Riley yang mulai remaja hadapi tekanan teman sebaya, olahraga kompetitif (hockey), dan rasa takut ditinggalkan. Anxiety jadi pusat cerita—karakter ini digambarkan sebagai emosi yang ingin melindungi Riley tapi akhirnya malah bikin overthinking dan panic attack. Maya Hawke beri suara Anxiety dengan sempurna: energik tapi rapuh, bikin penonton empati sekaligus gemas. Emosi lama seperti Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust tetap punya peran penting—mereka “diasingkan” oleh Anxiety di awal, tapi akhirnya kembali jadi tim yang balance. Cerita tentang penerimaan diri, pentingnya semua emosi (termasuk yang negatif), dan bagaimana pubertas bikin identitas berubah terasa sangat relatable. Banyak orang tua bilang film ini bantu mereka bicara soal kesehatan mental anak dengan cara ringan. Endingnya emosional tapi tidak berlebihan—ada momen Riley terima Anxiety sebagai bagian dirinya, dan itu bikin banyak penonton nangis di bioskop.

Visual, Musik, dan Humor yang Masih Kuat di Film Inside Out 2: Review Film Inside Out 2 Sequel: Emosi Baru Muncul?

Visual Pixar tetap kelas dunia. Headquarters emosi sekarang lebih besar dan chaotic, dengan warna-warna baru yang mewakili Anxiety (oranye cerah) dan Ennui (abu-abu dingin). Desain karakter emosi baru terasa segar—Anxiety tinggi kurus dan selalu gelisah, Envy kecil hijau dan mata besar, Embarrassment merah besar dan selalu sembunyi di balik hoodie. Adegan di “Sense of Self” dan “Belief System” penuh imajinasi—ada roller coaster emosi, sarang laba-laba Anxiety, dan gua memori yang runtuh. Musik Michael Giacchino kembali epik dengan tema baru untuk emosi baru. Lagu “Bundle of Joy” versi remix dan “All the Emotions” jadi favorit penonton. Humornya tetap tajam—Anger dan Disgust masih jadi sumber komedi, sementara Ennui dengan aksen Prancisnya bikin ngakak setiap kali bicara “bof”. Ada juga lelucon halus soal media sosial dan tekanan remaja yang bikin orang dewasa ikut tersenyum pahit.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Pertama

Meski kuat, film ini punya kelemahan kecil. Beberapa subplot terasa terburu-buru, terutama pengenalan emosi baru yang kadang kurang dalam. Anxiety sebagai villain awal terasa klise—mirip Joy yang dulu “jahat” di film pertama. Pacing di babak tengah agak lambat karena terlalu banyak fokus ke “console” dan “memory vault”. Beberapa fans bilang film ini terlalu “aman” dan kurang berani seperti Inside Out pertama yang punya twist besar soal Sadness. Durasi 1 jam 36 menit terasa pas, tapi beberapa adegan emosional terasa kurang “nendang” dibanding momen Bing Bong di film asli. Tapi secara keseluruhan, kekurangan ini tak ganggu pengalaman—film tetap menghibur, menyentuh, dan edukatif.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak keluarga nonton bareng dan diskusi pasca-film soal emosi remaja. Box office US$1,69 miliar (dengan budget US$200 juta) tunjukkan sukses komersial besar, dan jadi film animasi terlaris sepanjang masa. Di media sosial, klip Anxiety panic attack dan momen Riley terima dirinya jadi viral. Film ini juga bantu buka diskusi soal kesehatan mental remaja di banyak negara, termasuk Indonesia. Pixar kembali bukti mereka jagonya bikin cerita emosional yang universal. Sekuel ketiga sudah diumumkan untuk 2028, fokus pada fase baru Riley.

Kesimpulan

Inside Out 2 adalah sequel yang sukses besar—cerita emosional, visual memukau, dan pesan positif tentang penerimaan diri bikin film ini layak ditonton berulang kali. Emosi baru seperti Anxiety, Envy, Ennui, dan Embarrassment muncul dengan baik dan tambah kedalaman cerita tanpa merusak warisan film pertama. Meski ada kelemahan kecil di pacing dan kedalaman subplot, film ini tetap jadi salah satu animasi terbaik 2024–2025. Worth it? Sangat! Kalau belum nonton, siapkan tisu—film ini bakal bikin mata basah dan hati hangat. Pixar lagi on fire—semoga sekuel berikutnya juga sekuat ini. Nonton kalau belum—kamu bakal suka!

BACA SELENGKAPNYA DI…