Review Film Menjelang Ajal: Teror Gaib Jin Penolong

Review Film Menjelang Ajal: Teror Gaib Jin Penolong. Film horor Menjelang Ajal (2024) karya Rizal Mantovani resmi menjadi salah satu judul paling banyak dibicarakan di kalangan penikmat horor Indonesia sejak tayang 29 Agustus 2024. Dalam waktu kurang dari dua bulan, film ini berhasil menembus lebih dari 4 juta penonton di bioskop dan terus ramai dibahas di media sosial hingga Februari 2026. Berlatar di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, cerita berpusat pada keluarga sederhana yang tiba-tiba mendapat “pertolongan gaib” setelah sang ayah sakit parah. Awalnya terasa seperti keajaiban, tapi lambat laun teror mulai merayap ketika jin penolong itu menuntut bayaran yang jauh lebih mahal dari sekadar doa atau sesaji. Dengan durasi 107 menit, film ini tidak hanya mengandalkan penampakan hantu dan jumpscare, tapi juga membangun rasa takut lewat atmosfer desa yang pengap, suara angin malam, dan konflik batin keluarga yang semakin dalam. Review ini mengupas makna utama cerita: teror gaib jin penolong sebagai simbol godaan dan harga mahal ketika manusia meminta bantuan dari alam ghaib. BERITA BASKET

Sinopsis dan Alur yang Meningkatkan Ketegangan: Review Film Menjelang Ajal: Teror Gaib Jin Penolong

Film mengikuti keluarga Pak Harjo (Dimas Aditya) yang hidup pas-pasan di desa. Ketika Harjo jatuh sakit parah dan dokter desa sudah menyerah, istrinya Sari (Aura Kasih) nekat mencari jalan lain. Seorang dukun lokal menawarkan bantuan jin penolong yang katanya bisa menyembuhkan dengan cepat. Tak lama kemudian Harjo memang pulih, usaha keluarga tiba-tiba lancar, dan kehidupan terasa ringan. Namun tanda-tanda buruk mulai muncul: suara langkah di atap malam hari, bau amis yang tak hilang, anak mulai berbicara sendiri, dan sosok tanpa wajah yang mengintai dari balik pohon. Alur dibangun perlahan di paruh pertama untuk menanam rasa curiga, lalu dipercepat di paruh kedua ketika keluarga sadar bahwa “pertolongan” itu datang dengan harga nyawa orang terdekat. Rizal Mantovani pintar memainkan ekspektasi penonton: awalnya penonton ikut senang melihat keluarga “berhasil”, tapi lama-lama merasa tidak nyaman karena menyadari bayaran yang diminta jin itu jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan.

Kekuatan Sinematik dan Makna Teror Gaib Jin Penolong: Review Film Menjelang Ajal: Teror Gaib Jin Penolong

Sinematografi film ini menggunakan warna-warna gelap dan pencahayaan rendah khas desa malam hari untuk menciptakan rasa pengap dan terintimidasi. Rumah panggung kayu, jalan setapak berlumpur, dan hutan di belakang desa menjadi latar yang sangat mendukung atmosfer horor tradisional Jawa. Tema teror gaib jin penolong di sini bukan sekadar cerita mistis, melainkan simbol godaan dan konsekuensi ketika manusia mencari jalan pintas dalam keputusasaan. Jin dalam film ini tidak digambarkan sebagai makhluk jahat murni, melainkan sebagai entitas netral yang “membantu” sesuai permintaan—asalkan ada imbalan setara. Kematian misterius ayah di awal cerita menjadi pemicu, tapi teror sebenarnya adalah rasa bersalah yang muncul ketika keluarga harus memilih: menyelamatkan satu orang atau mengorbankan yang lain. Rizal Mantovani juga menyisipkan kritik halus terhadap budaya yang terlalu bergantung pada jalan pintas gaib serta sikap masyarakat desa yang lebih memilih diam demi menjaga “keseimbangan” daripada menghadapi akibatnya. Performa Dimas Aditya dan Aura Kasih sebagai pasangan suami-istri terasa sangat natural—mereka berhasil menyampaikan rasa takut, rasa bersalah, dan konflik batin tanpa perlu berlebihan. Adegan klimaks di tengah hutan malam hari menjadi puncak yang sangat mencekam, menggabungkan elemen alam dengan horor psikologis yang kuat.

Dampak Budaya dan Relevansi di 2026

Sampai Februari 2026, Menjelang Ajal masih sering disebut sebagai salah satu horor Indonesia yang berhasil menggabungkan elemen mistis tradisional dengan konflik keluarga yang relatable. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan dialog seperti “pertolongan itu ada harganya” atau “jin nggak pernah kasih gratis” sebagai caption di media sosial untuk menggambarkan situasi hidup yang terasa “terlalu bagus untuk jadi kenyataan”. Film ini juga kerap dijadikan bahan diskusi tentang budaya “jalan pintas” dalam masyarakat Indonesia—baik dalam konteks pengobatan alternatif, pesugihan, maupun keputusan hidup yang tergesa-gesa. Elemen jin penolong yang netral (bukan jahat murni) membuat film ini terasa lebih realistis dan menyeramkan karena mengajak penonton bertanya pada diri sendiri: “Kalau aku di posisi mereka, apa aku juga akan tergoda?”

 

Kesimpulan

Menjelang Ajal bukan sekadar film horor yang mengandalkan penampakan jin atau jumpscare; ia adalah cerita tentang teror gaib jin penolong yang sebenarnya berakar dari godaan manusia sendiri ketika putus asa. Rizal Mantovani berhasil mengemas cerita yang menyeramkan sekaligus mengajak penonton merenung tentang harga sebuah “pertolongan” yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa teror terbesar bukan selalu datang dari dunia gaib, melainkan dari keputusan kita sendiri ketika terlalu nekat mencari jalan keluar. Bagi siapa pun yang pernah merasa “terlalu mudah” dalam hidup, film ini terasa seperti bisikan dingin: hati-hati, setiap pertolongan gaib pasti punya harga—dan harganya biasanya lebih mahal dari yang kamu bayangkan

BACA SELENGKAPNYA DI…