Review Film Rambo

Review Film Rambo. Enam tahun setelah rilisnya pada 2019, film Rambo: Last Blood tetap menjadi topik hangat di kalangan penggemar aksi ekstrem menjelang akhir 2025. Sebagai bagian kelima dari seri ikonik yang dimulai sejak 1982, film ini menandai penutup potensial bagi John Rambo, veteran perang Vietnam yang diperankan Sylvester Stallone. Durasi 89 menit ini mengisahkan Rambo yang pensiun di peternakan Arizona, hidup damai bersama pengasuh Maria dan keponakannya Gabriela, hingga tragedi mendorongnya balik ke mode pembunuh. Dengan rating 26% dari kritikus dan 47% dari penonton, film ini memicu perdebatan: apakah ini perpisahan epik atau akhir yang mengecewakan? Bagi yang suka gore tanpa ampun, ini hiburan brutal; bagi yang mencari kedalaman, rasanya seperti montase klise. BERITA BOLA

Penampilan Stallone yang Monolitik: Review Film Rambo

Sylvester Stallone kembali sebagai Rambo dengan usia 73 tahun saat syuting, membawa bobot emosional yang lebih berat daripada film-film sebelumnya. Karakternya digambarkan sebagai pria rapuh yang berjuang menahan trauma masa lalu, lengkap dengan pil obat dan parit survivalis rahasia di bawah rumah. Stallone tampil fisik mengesankan: ia menunggang kuda, bertarung tangan kosong, dan menangani senjata dengan presisi veteran. Namun, penampilannya sering dikritik karena kurang variasi – Rambo lebih banyak diam dan bergumam daripada berbicara, yang justru terasa seperti pengkhianatan karakter pendiam asli. Meski begitu, momen-momen emosional seperti saat ia mengubur Gabriela dengan tangan kosong menunjukkan sisi rentan yang jarang terlihat, membuat penonton merasa campur aduk antara simpati dan kegelisahan. Ini bukan Stallone yang karismatik seperti di Creed, tapi justru kekuatannya: Rambo terasa seperti arketipe aksi yang lelah tapi tak tergoyahkan.

Aksi Gore yang Ekstrem dan Mengganggu: Review Film Rambo

Bagian yang paling dikenang – dan dikecam – adalah adegan aksi klimaks, di mana Rambo mengubah rumahnya menjadi jebakan mematikan mirip Home Alone versi slasher. Dengan perangkap kawat berduri, palu godam, dan busur panah, ia membantai kartel Meksiko dalam urutan berdarah-darah yang berlangsung 20 menit terakhir. Kekerasan di sini tak kenal ampun: wajah musuh robek zigzag, hati dicabut hidup-hidup, dan ledakan darah yang membuat penonton mual. Sutradara Adrian Grunberg menggunakan editing cepat untuk mempercepat tempo, tapi justru membuatnya sulit dicerna – seperti campuran Texas Chain Saw Massacre dan Looney Tunes yang gelap. Montase akhir dengan klip film Rambo lama menambah lapisan nostalgia, tapi juga menyedihkan, mengingatkan betapa jauh seri ini bergeser dari anti-perang asli ke fantasi balas dendam kartun. Meski begitu, bagi penggemar gore, ini rousing hurrah yang memuaskan.

Plot Klise dan Isu Kontroversial

Cerita dimulai lambat dengan Rambo mencoba hidup normal, tapi segera jatuh ke formula balas dendam standar: Gabriela diculik kartel setelah mencari ayahnya di Meksiko, memicu Rambo nyebrang perbatasan untuk pembantaian. Elemen seperti jurnalis Paz Vega yang membantu investigasi terasa paksa, sementara villain kartel digambarkan sebagai karikatur xenofobik – isu yang membuat film ini dituduh mempromosikan narasi anti-imigran ala Trump era. Plot penuh lubang: luka parah sembuh instan, logika perangkap yang absurd, dan akhir yang terlalu mudah. Ini bukan film yang mencoba mendalami jiwa Rambo seperti First Blood; sebaliknya, ia prioritaskan kekerasan di atas karakter, mengorbankan potensi emosional untuk ledakan darah. Meski begitu, elemen seperti pesta Gabriela yang berujung tragedi menambah lapisan tragis, membuatnya lebih dari sekadar B-movie murahan.

Kesimpulan

Rambo: Last Blood adalah perpisahan berdarah untuk ikon aksi yang pernah revolusioner, tapi kini terasa usang dan berlebihan. Kekuatan utamanya ada di Stallone yang setia dan aksi gore yang tak tertandingi, meski plot klise dan sikap xenofobiknya membuatnya sulit direkomendasikan secara luas. Ini film untuk yang haus balas dendam brutal, bukan pencari cerita mendalam – rating rendahnya mencerminkan polarisasi itu. Enam tahun kemudian, film ini tetap relevan sebagai pengingat evolusi genre aksi: dari kritik perang menjadi fantasi kekerasan. Jika Anda siap untuk darah dan nostalgia, tontonlah; tapi untuk seri yang lebih baik, balik ke First Blood. Rambo layak pensiun dengan hormat, dan ini, meski cacat, adalah catatan akhir yang tak terlupakan.

BACA SELENGKAPNYA DI…