Review Film Frost/Nixon

Review Film Frost/Nixon. Film Frost/Nixon garapan Ron Howard yang tayang pada 2008 tetap menjadi salah satu drama politik paling tajam dan sering dibahas ulang pada 2026 ini, terutama di tengah diskusi tentang akuntabilitas pemimpin, wawancara eksklusif, dan peran media dalam membentuk opini publik. Mengisahkan serial wawancara televisi antara pembawa acara Inggris David Frost dan mantan Presiden Richard Nixon pada 1977, tiga tahun setelah pengunduran diri Nixon akibat skandal Watergate, film ini mengubah pertemuan yang sebenarnya kaku menjadi thriller psikologis penuh ketegangan. Dengan Frank Langella sebagai Nixon yang karismatik namun rapuh serta Michael Sheen sebagai Frost yang ambisius dan cerdas, karya ini berhasil menangkap esensi pertarungan antara dua ego besar di depan kamera. Di era ketika wawancara politik sering menjadi panggung pertunjukan dan kebenaran sulit digali, narasi film ini terasa semakin relevan sebagai pengingat bahwa satu momen pengakuan bisa mengubah persepsi sejarah selamanya, meski dibalut dalam drama hiburan televisi. BERITA BOLA

Sinopsis dan Latar Belakang Wawancara Bersejarah: Review Film Frost/Nixon

Frost/Nixon mengikuti perjalanan David Frost, pembawa acara talk show yang sedang menurun karirnya, saat ia berusaha mendapatkan wawancara eksklusif pertama dengan Nixon pasca-Watergate, sesuatu yang ditolak oleh jaringan besar karena dianggap terlalu berisiko. Frost membiayai sendiri proyek ini dengan dukungan produser dan jurnalis, berharap bisa menggali pengakuan langsung tentang keterlibatan Nixon dalam skandal tersebut. Nixon, yang sedang mencoba merehabilitasi citra publiknya, melihat wawancara ini sebagai kesempatan untuk membela diri dan mendapatkan bayaran besar. Film ini membangun ketegangan melalui persiapan intensif kedua belah pihak: Frost yang berlatih dengan timnya untuk menekan, serta Nixon yang didampingi penasihat setia namun waspada. Klimaks terjadi pada sesi terakhir ketika Frost berhasil memancing pengakuan langka dari Nixon bahwa ia mengecewakan rakyat Amerika, sebuah momen yang mengubah dinamika wawancara dari duel kata-kata menjadi pengakuan emosional yang jarang terlihat dari mantan presiden. Narasi ini tidak hanya merekam fakta sejarah, melainkan juga menyoroti bagaimana media bisa menjadi alat untuk memaksa akuntabilitas ketika sistem hukum gagal melakukannya sepenuhnya.

Penampilan Frank Langella dan Michael Sheen yang Memukau: Review Film Frost/Nixon

Frank Langella memberikan penampilan yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam menggambarkan Richard Nixon, dengan postur tubuh yang kaku, suara serak khas, dan tatapan mata yang penuh perhitungan serta kerapuhan tersembunyi. Ia berhasil menangkap kompleksitas Nixon sebagai pria yang cerdas namun paranoid, ambisius namun terluka, sehingga karakternya terasa manusiawi daripada sekadar karikatur politik. Michael Sheen sebagai David Frost tampil dengan pesona ringan dan ambisi tajam, menggambarkan pembawa acara yang awalnya dianggap remeh namun perlahan menemukan kekuatannya melalui ketekunan dan insting. Chemistry antara keduanya terasa elektrik, terutama dalam adegan wawancara langsung di mana setiap jeda dan tatapan menjadi senjata psikologis. Pemeran pendukung seperti Kevin Bacon sebagai penasihat Nixon yang sinis, Rebecca Hall sebagai produser Frost, dan Sam Rockwell serta Oliver Platt sebagai tim Frost menambah lapisan dinamika, menciptakan kontras antara profesionalisme dingin dan semangat idealis. Ensemble ini bekerja secara harmonis, membuat setiap interaksi terasa autentik dan penuh taruhan emosional, sehingga penonton ikut merasakan tekanan yang dialami kedua tokoh utama.

Arahan Ron Howard dan Tema Akuntabilitas Kekuasaan

Ron Howard menyutradarai dengan gaya yang terkendali namun dinamis, menggunakan close-up intens untuk menangkap emosi mikro di wajah para aktor serta transisi cepat antara persiapan dan wawancara untuk mempertahankan ritme ketegangan. Pendekatan ini membuat film terasa seperti pertarungan tinju verbal, di mana setiap pertanyaan dan jawaban membawa bobot besar. Tema utama adalah kekuatan media dalam memaksa pertanggungjawaban ketika institusi politik gagal, serta bagaimana satu pengakuan bisa menjadi penebusan sekaligus akhir dari rehabilitasi citra. Howard juga menyoroti aspek psikologis dari kekuasaan: Nixon yang masih percaya dirinya benar meski terbukti salah, serta Frost yang belajar bahwa ketulusan lebih ampuh daripada trik hiburan. Di tengah era kontemporer di mana wawancara politik sering menjadi pertunjukan scripted dan pengakuan jarang terjadi, pesan film ini tentang pentingnya pertanyaan sulit dan keberanian menghadapi jawaban terasa sangat tepat waktu, mengingatkan bahwa akuntabilitas pemimpin tetap bergantung pada keberanian individu di depan publik.

Kesimpulan

Frost/Nixon tetap menjadi salah satu drama terbaik tentang politik dan media, dengan kekuatan utama pada penampilan luar biasa Frank Langella dan Michael Sheen serta arahan presisi Ron Howard yang mengubah peristiwa sejarah menjadi thriller emosional yang memikat. Meski berlatar hampir lima dekade lalu, film ini berhasil menangkap esensi pertarungan antara kekuasaan dan kebenaran yang masih sangat relevan di masa kini, ketika pemimpin sering menghindari pertanggungjawaban dan media berjuang mempertahankan peran pengawasnya. Karya ini bukan sekadar rekaman wawancara terkenal, melainkan studi mendalam tentang ego, penebusan, dan kekuatan satu momen kejujuran di hadapan jutaan mata. Bagi siapa saja yang tertarik pada dinamika kekuasaan dan peran media dalam demokrasi, film ini adalah tontonan esensial yang meninggalkan rasa kagum sekaligus refleksi tentang apa artinya meminta pertanggungjawaban dari mereka yang pernah memegang kekuasaan tertinggi. Di tengah iklim politik yang penuh distraksi, Frost/Nixon berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa kebenaran kadang hanya butuh satu pertanyaan tepat untuk muncul ke permukaan.

BACA SELENGKAPNYA DI…