Review Film Cinta Brontosaurus
Review Film Cinta Brontosaurus. Film Cinta Brontosaurus yang dirilis pada 2013 kembali menjadi perbincangan di awal 2026. Adaptasi novel karya Raditya Dika ini sering ditayangkan ulang di platform digital, menyusul minat generasi muda terhadap komedi romantis ringan. Saat pertama rilis, film ini sukses menarik ratusan ribu penonton dalam waktu singkat, menjadikannya salah satu komedi Indonesia populer era itu. Kini, kisah Dika yang cynic soal cinta ini masih menghibur, terutama bagi yang suka humor absurd dan relatable tentang hubungan. BERITA BASKET
Plot dan Karakter Utama: Review Film Cinta Brontosaurus
Cerita berpusat pada Dika, penulis yang baru putus dengan pacar lama bernama Nina. Pengalaman buruk membuatnya yakin bahwa cinta punya masa kadaluarsa, seperti brontosaurus yang punah. Agennya, Kosasih, berusaha meyakinkan Dika tentang cinta sejati sambil memperkenalkan berbagai gadis. Tak disangka, Dika bertemu Jessica, perempuan dengan pola pikir aneh mirip dirinya, yang mulai menggoyahkan teori kadaluarsanya.
Raditya Dika memerankan Dika dengan gaya natural khasnya, penuh joke receh tapi menyentuh. Eriska Rein sebagai Jessica tampil segar dan cocok sebagai pasangan absurd. Soleh Solihun sebagai Kosasih membawa humor pendukung yang kuat, didukung Tyas Mirasih sebagai Wanda dan Pamela Bowie sebagai Nina. Chemistry Dika dan Jessica terasa ringan, membuat penonton ikut tertawa sekaligus haru dengan dinamika hubungan mereka.
Elemen Komedi dan Romantis: Review Film Cinta Brontosaurus
Cinta Brontosaurus unggul dengan humor khas Raditya Dika: joke receh, situasi absurd, dan sindiran ringan terhadap industri film horor yang lagi booming saat itu. Adegan perkenalan gagal dan teori cinta kadaluarsa menjadi sumber tawa utama. Di balik komedi, ada sentuhan romantis sederhana tentang bagaimana orang aneh bisa saling melengkapi.
Disutradarai Fajar Nugros, film ini menyajikan tempo cepat dengan dialog witty yang mudah diingat. Subplot tentang adaptasi buku Dika menjadi film menambah lapisan meta yang lucu. Elemen ini membuat cerita terasa segar, cocok untuk penonton yang ingin hiburan tanpa beban tapi tetap ada pesan tentang membuka hati.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena humor autentik, kesetiaan pada novel, serta performa Raditya Dika yang karismatik. Banyak penonton menikmati joke-jokenya yang relatable, plus pesan ringan tentang cinta tak selalu kadaluarsa. Kesuksesan saat rilis membuktikan formula komedi romantis ini ampuh bagi generasi muda.
Di sisi lain, beberapa kritik bilang plot agak predictable dan konflik terasa sederhana, dengan adegan kadang melebar tanpa tujuan jelas. Humor receh tak selalu cocok untuk semua selera, membuat sebagian penonton merasa cerita mengulur waktu. Meski begitu, kekurangan ini tak menghalangi kesan keseluruhan sebagai komedi menghibur.
Kesimpulan
Cinta Brontosaurus tetap jadi komedi romantis klasik yang fun dan relatable di awal 2026 ini. Kisah Dika dan Jessica mengingatkan bahwa cinta kadang datang dari orang paling tak terduga, meski dengan segala keanehan. Dengan humor khas dan pesan sederhana, film ini layak ditonton ulang untuk tertawa lepas atau nostalgia masa single. Secara keseluruhan, ini adalah karya ringan yang berhasil campur aduk tawa dan haru, cocok bagi siapa saja yang pernah cynic soal hubungan.
