Review Film The Babysitter

Review Film The Babysitter. Film The Babysitter yang dirilis pada 2017 tetap menjadi salah satu horror comedy paling fun dan berdarah hingga tahun 2025. Disutradarai oleh McG, film ini mengikuti Cole, bocah 12 tahun pemalu yang naksir babysitter-nya, Bee, tapi malam itu berubah jadi mimpi buruk saat ia tahu Bee dan teman-temannya bagian dari kultus setan yang butuh darah untuk ritual. Dengan gore berlebih, humor sarkastik, dan vibe 80-an yang kental, film ini sukses jadi guilty pleasure banyak orang. Meski ada sekuelnya, versi original tetap yang paling segar karena keseimbangan antara ketegangan slasher, tawa absurd, dan coming-of-age ringan. BERITA BOLA

Plot dan Twist yang Menghibur: Review Film The Babysitter

Plot dan Twist yang Menghibur berjalan cepat dan penuh kejutan yang bikin film ini addictive. Cole yang takut segalanya pura-pura tidur untuk lihat Bee lebih lama, tapi malah saksikan ritual pembunuhan teman sekolahnya untuk ambil darah. Saat ketahuan, Cole harus kabur dan lawan anggota kultus satu per satu—dari cheerleader psikopat sampai nerd yang obsesif. Plot ikut formula home invasion, tapi dibalik dengan cara lucu: Cole yang awalnya penakut pakai pengetahuan film dan buku untuk balas dendam. Twist tentang motif Bee dan hubungannya dengan Cole tambah lapisan emosional tanpa bikin cerita jadi berat. Hasilnya, film ini tak pernah bosan—setiap kill kreatif dan over-the-top, seperti tembak kepala dengan kembang api atau tusuk dengan penggaris raksasa.

Humor Gore dan Cast yang Enerjik: Review Film The Babysitter

Humor Gore dan Cast yang Enerjik adalah alasan film ini terasa ringan meski berdarah-darah. Gore-nya intens tapi kartunish—darah muncrat seperti air mancur, luka fatal tapi karakter tetap ngomong sebelum mati. Humor datang dari dialog sarkastik kultus yang lebih mirip geng remaja daripada setan worshipper: mereka debat kontrak setan sambil kejar Cole. Samara Weaving sebagai Bee curi perhatian dengan pesona deadly yang karismatik, sementara Robbie Amell, Bella Thorne, dan Hana Mae Lee tambah warna sebagai anggota kultus yang punya kepribadian absurd. Judah Lewis sebagai Cole bawa innocence yang relatable, membuat penonton root untuknya saat ia berubah dari korban jadi survivor pintar. Chemistry cast terasa alami, bikin adegan kill yang brutal tetap lucu dan tak pernah terlalu seram.

Dampak dan Relevansi di Tahun 2025

Dampak dan Relevansi di Tahun 2025 menunjukkan betapa film ini masih populer sebagai comfort horror. Saat rilis di platform streaming, ia langsung viral berkat gore kreatif dan vibe nostalgia 80-an seperti referensi film klasik dan musik synth. Sekuelnya yang rilis kemudian bukti daya tariknya, tapi original tetap favorit karena lebih ringkas dan fokus. Di 2025, film ini sering masuk daftar slasher comedy terbaik dan jadi inspirasi bagi horror yang tak takut campur tawa dengan darah. Pesan ringan tentang keberanian menghadapi ketakutan—baik bully sekolah maupun kultus setan—masih resonan bagi remaja atau siapa saja yang pernah merasa outsider. Re-watch value tinggi karena detail lucu seperti intertitle kontrak setan atau one-liner sebelum kill.

Kesimpulan

The Babysitter adalah horror comedy yang berhasil jadi lebih dari slasher biasa—ia fun, berdarah, dan punya hati kecil tentang tumbuh dewasa di malam paling gila. Di tahun 2025, film ini tetap jadi pilihan sempurna untuk malam santai yang butuh tawa sekaligus adrenalin tanpa terlalu serius. McG dan castnya ciptakan karya yang energik, gore-nya kreatif, dan humornya pas, membuatnya abadi di genre yang sering terlalu formulaik. Jika suka horor yang tak takut absurd atau comedy dengan darah muncrat, ini wajib ditonton ulang—dijamin masih bikin ketawa dan tegang sekaligus. Film ini bukti bahwa slasher bisa lucu dan menghibur jika punya timing dan cast yang tepat.

BACA SELENGKAPNYA DI…