Review Film The Shape of Water: Cinta Pasca Perang Dingin

Review Film The Shape of Water: Cinta Pasca Perang Dingin. The Shape of Water (2017) karya Guillermo del Toro tetap menjadi salah satu film paling indah dan emosional hingga kini. Film fantasi romansa ini mengisahkan cinta tak biasa antara Elisa Esposito—wanita bisu yang bekerja sebagai petugas kebersihan di laboratorium rahasia pemerintah AS tahun 1962—dengan makhluk amfibi misterius yang ditangkap dari Amazon. Sally Hawkins memerankan Elisa dengan kelembutan luar biasa, sementara Doug Jones sebagai The Asset (makhluk itu) memberikan performa fisik yang penuh ekspresi tanpa satu kata pun. Film ini bukan sekadar dongeng cinta—ini adalah alegori tentang penerimaan, keberanian melawan sistem, dan cinta yang melampaui batas manusia di tengah ketegangan Perang Dingin. Dengan 13 nominasi Oscar dan 4 kemenangan (termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik), The Shape of Water berhasil menyatukan elemen fantasi, drama, dan komentar sosial dengan harmonis. BERITA BOLA

Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film The Shape of Water: Cinta Pasca Perang Dingin

Tahun 1962, di Baltimore, Elisa hidup sederhana bersama tetangganya Giles (Richard Jenkins)—seorang ilustrator gay yang kesepian—dan rekan kerjanya Zelda (Octavia Spencer). Elisa bekerja membersihkan laboratorium rahasia di mana Amerika dan Uni Soviet sedang bersaing ketat dalam perlombaan luar angkasa. Suatu hari, laboratorium menerima “aset” baru: makhluk amfibi humanoid yang ditangkap dari sungai Amazon oleh Kolonel Strickland (Michael Shannon), perwira militer yang kejam dan fanatik.
Elisa mulai berkomunikasi dengan makhluk itu melalui bahasa isyarat dan musik. Perlahan hubungan mereka berkembang menjadi cinta yang dalam dan intim. Ketika Elisa mengetahui rencana Strickland untuk membedah makhluk itu, ia memutuskan untuk menyelamatkannya dengan bantuan Giles, Zelda, dan ilmuwan Soviet yang diam-diam membelot, Dr. Hoffstetler (Michael Stuhlbarg). Alur bergerak seperti dongeng klasik: cinta terlarang, penyelamatan berisiko, dan akhir yang bittersweet tapi penuh harapan. Film ini tidak menghindari kekerasan dan tema dewasa, tapi tetap mempertahankan nada romantis dan penuh keajaiban.

Performa Aktor dan Produksi: Review Film The Shape of Water: Cinta Pasca Perang Dingin

Sally Hawkins sebagai Elisa Esposito memberikan penampilan luar biasa yang hampir tanpa dialog—ia berkomunikasi melalui bahasa isyarat, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh yang sangat ekspresif. Penampilannya membuat Elisa terasa sangat hidup dan penuh emosi. Doug Jones sebagai The Asset membawa makhluk itu menjadi karakter yang lembut dan penuh kasih, bukan monster. Michael Shannon sebagai Kolonel Strickland sangat menyeramkan—ia mewakili fanatisme Perang Dingin dengan dingin dan kejam. Richard Jenkins dan Octavia Spencer sebagai sahabat Elisa memberikan keseimbangan emosional dan humor yang hangat.
Produksi terasa sangat magis: sinematografi Dan Laustsen menggunakan warna biru-hijau yang dingin dan hangat secara bergantian, menciptakan suasana mimpi yang kontras dengan realitas keras laboratorium. Desain produksi dan kostum Sarah Greenwood serta set karya Paul Austerberry membawa penonton ke Amerika 1960-an dengan detail yang indah. Musik Alexandre Desplat yang memenangkan Oscar—penuh melodi harpa dan nada romantis—menjadi salah satu soundtrack paling ikonik dekade ini.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan terbesar The Shape of Water adalah cara film ini menggabungkan fantasi dengan komentar sosial tanpa terasa memaksa. Cinta antarspesies menjadi metafora tentang penerimaan terhadap yang “berbeda”, terutama di era Perang Dingin ketika ketakutan terhadap “yang lain” sangat tinggi. Sally Hawkins membuat Elisa terasa seperti pahlawan yang sederhana tapi kuat, sementara film ini juga pintar mengkritik rasisme, homofobia, dan patriarki melalui karakter pendukung. Adegan intim antara Elisa dan The Asset ditampilkan dengan sangat lembut dan penuh rasa hormat, membuatnya terasa romantis bukan eksploitatif.
Di sisi lain, beberapa penonton merasa akhir cerita terlalu dongeng dan kurang realistis. Beberapa subplot (terutama tentang Giles dan Zelda) terasa sedikit kurang dalam dibandingkan fokus utama pada Elisa. Pace film yang lambat di bagian tengah mungkin terasa berat bagi yang mencari thriller cepat. Namun justru kekuatan itu terletak pada kesabaran narasinya—seperti cinta yang tumbuh perlahan.

Kesimpulan

The Shape of Water adalah film yang indah, romantis, dan sangat manusiawi—mengisahkan cinta musim dingin di tengah Perang Dingin dengan cara yang membuat penonton ikut merasakan keajaiban dan kesedihannya. Sally Hawkins dan Doug Jones membawa kisah cinta yang tak biasa menjadi sesuatu yang sangat menyentuh, didukung visual memukau, musik ikonik, dan naskah penuh nuansa dari Guillermo del Toro. Film ini bukan tentang monster atau pahlawan super—ini tentang dua makhluk yang kesepian menemukan satu sama lain di dunia yang tidak mengerti mereka. Bagi penggemar romansa, fantasi, atau siapa saja yang ingin menonton film tentang penerimaan dan keberanian mencintai yang berbeda, The Shape of Water sangat layak ditonton ulang. Ini bukan tentang happy ending yang sempurna—ini tentang bagaimana cinta bisa mengubah segalanya, bahkan dalam bentuk yang paling tak terduga.

BACA SELENGKAPNYA DI…